Uncategorized



Hidup harus diperjuangkan. Setiap mahluk yang ada di dunia ini WAJIB memperjuangkan hidupnya. Tanpa memperjuangkan hidup, mustahil impian kita tercapai. Banyak jalan untuk memperjuangkan hidup, mulai dari yang susah hingga yang mudah. Mulai dari yang halal hingga haram. Silahkan memilih, karena setiap hal yang kita perjuangkan harus dapat kita pertanggungjawabkan. Selamat berjuang wahai para pejuang!!! 

Entah sudah beberapa kali saya mendapatkan notifikasi dari linkedin yang memberitahukan bahwa ada teman di jaringan saya yang update profil linked in nya. Kemudian saya berpikir, koq saya ga pernah update profil linkedin ya?

Setelah saya berpikir sejenak, baru saya menemukan “sedikit hipotesa” saya. Linkedin itu untuk orang-orang yang bergerak di bidang profesional. Orang-orang yang punya jenjang karier. Aktifitas mereka kadang berbeda dengan orang orang yang berprofesi sebagai seorang pengusaha. Bagi orang profesional, mengikuti kursus yang berstandar, dan bersertifikasi adalah nilai jual mereka terhadap perusahaan. Sehingga wajar jika mereka menampilkan segudang sertifikasi mereka di linked in mereka. Tapi bagi seorang pengusaha, sertifikasi bagi dirinya tidak terlalu prioritas. Mencari orang yang ber sertifikasi untuk membantu perusahaan nya mungkin lebih worth bagi seorang pengusaha.

Kemudian masalah jenjang karier, bagi seorang profesional, karier demi karier dilakoni dan perlu di publish karena “menjual”. Tapi bagi pengusaha, di saat bikin usaha, posisi nya sudah DIREKTUR, mau jenjang karier gmn? Itu sudah posisi yang paling atas hehe. Pengusaha lebih baik menceritakan portofolio perusahaan nya daripada portofolio dirinya. Karena membangun tangga-tangga portofolio perusahaan lebih mendatangkan benefit bagi diri seorang pengusaha.

fb

Cukup surprise saya membaca salah satu “friend FB” saya. Beliau adalah seorang abdi negara yang bekerja untuk suatu institusi negeri ini. Memang tidak jelas sih status nya ini tentang apa. Tapi perkiraan saya, jalur karier beliau tidak senormal yang lain. Emang bisa gitu? Bisa banget broooo.. Terlepas dari apa yang terjadi pada “friend FB” ini, mari kita ambil hikmah nya.
Di dunia institusi swasta ataupun negeri, percaya atau tidak, karier kita cukup dipengaruhi oleh siapa atasan kita. Kalau atasan kita pengen kita “jalan di tempat”, setinggi apapun kompetensi kita, kemungkinan nya cukup besar untuk kita “mandeg” karier nya. Kalau kita berjuang untuk nunjukin ke atasan bahwa kompetensi kita layak untuk di promosikan, nanti dibilang penjilat. Kalau ga ngomong, kompetensi kita ga keliatan. Nah lho, bingung kan? Gimana coba?
Bukannya saya membela profesi pengusaha lho ya, menurut saya pribadi, profesi pengusaha adalah profesi yang jalur karier nya paling adil. Kenapa? Karena ibarat suatu pertandingan, jenjang karier pengusaha itu seperti full body contact tanpa protector. Kemajuan usaha nya tergantung dari kompetensi pribadi nya. Ga butuh embel-embel, sarjana, master, doktor, lulusan SD pun selama kompetensi nya mumpuni, pasti bisa survive jadi pengusaha. Selain itu market juga yang akan menentukan prestasi nya. Dan market itu susah untuk dikendalikan kecuali oleh tingkat layanan perusahaan nya sang pengusaha ini.

Siapa yang belum pernah kenal kata GENGSI? Pasti kita semua pernah dengar atau bahkan pernah atau sedang memakai atribut GENGSI dalam kehidupan ini. Saya pun tak memungkiri bahwa GENGSI itu adalah suatu atribut kehidupan yang nyata adanya 🙂

Karena saya pernah memakai atribut tersebut (mungkin sekarang juga lagi pakai 😦 ), gengsi ini membuat tingkah laku kita berubah. Kita berani mengorbankan harta, waktu dan bahkan harga diri untuk mempertahankan gengsi ini.
Misal, karena kita sudah menemuh jenjang pendidikan tinggi, kita gengsi untuk belajar sama orang lulusan SD. Karena kita sudah menduduki jabatan yang tinggi, kita gengsi untuk tampil apa adanya. Karena kita adalah “jebolan” perusahaan ternama, kita gengsi untuk jualan bakso di pinggir jalan. Dan masih banyak contoh-contoh gengsi yang lain.
Tapi tahukah anda, gengsi itulah yang membuat pemasukan kita ga cukup-cukup. Lebih baik berhutang kredit daripada dibilang HP nya ga uptodate.Yaaaa.. Terasa ataupun tidak, hidup kita ini bisa hancur tiba-tiba karena nurutin gengsi. Yukkk ahhh.. Kita hidup sesuai dengan kemampuan kita. Kita belanja sesuai dengan kebutuhan kita. 🙂
– Sukses Dunia adalah batu lompatan untuk Sukses Akherat –

Pagi ini hati saya gundah dan bahkan beberapa kali mata ini berkaca-kaca. Salah satu yang membuat saya begini pagi ini adalah ketika saya secara tidak sengaja membaca grup FB yang digagas mas Saptuari. Di grup ini banyak sekali dibahas tentang bahaya nya riba.

Pinjaman bank, kartu kredit, dan produk-produk bank banyak yang masuk ke riba. Padahal sudah beberapa tahun ini saya menjadikan bank sebagai partner setia dalam berbisnis. Sementara di grup, mas Saptuari bersama beberapa teman2 yang lain justru mengkampanyekan bisnis tanpa riba.
Ketika saya coba bertanya-tanya dalam hati, saya cari terus jawabannya (untuk pembenaran bahwa bank itu investor termurah), tiba-tiba perjalanan pencarian itu berhenti dengan suatu hadits ini.
Dari Abdullah bin Masud RA dari Nabi SAW bersabda,”Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu yang paling ringan seperti seorang laki-laki berzina dengan ibunya sendiri. (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Coba bayangkan. Riba yang paling ringan adalah seperti seorang laki-laki yang berzina dengan ibu kandung sendiri. berzina aja sudah dosa, apalagi dengan ibu sendiri. Astaghfirullahaladzim.
Semoga Allah memberikan kekuatan dan jalan untuk segera terbebas dari riba. Amiiinnn..
Sukses dunia adalah batu lompatan untuk sukses akherat.

Bagi orang yang sudah biasa menggunakan ART (Asisten Rumah Tangga) mungkin sudah paham dengan judul postingan saya ini. Yuoz benar sekali, lebaran erat kaitannya dengan issue2 ART, diantaranya adalah
1. ART pulang kampung untuk lebaran, para penghuni rumah kelabakan dengan pekerjaan2 rumah yang biasa nya dikerjakan oleh ART. Untuk menghindarinya, tidak sedikit yang menghabiskan liburannya tidak di rumah, melainkan wisata atau menginap di hotel. Selain itu, sekarang juga ada yang namanya ART infal, mereka ini sengaja tidak lebaran di rumah nya, tetapi menggantikan ART yang lagi lebaran. Gaji nya? Yaa jelas lebih mahal. Yang pernah nawarin infal ke saya minta 180rbu per hari. Wooowww 😀

2. Issue yang kedua adalah ART ga balik lagi, ini hal yang sangat menyebalkan. Apalagi kalau waktu pamit pulang kampung ga ngasih kabar kalau ga mau balik lagi.

So, buat yang biasa pakai ART, waspadalah dengan momen lebaran ini, karena (menurut saya) lebaran ini momen kritis bagi ART kita untuk dapat di waspadai.

Ramadhan kali ini saya mendapatkan beberapa hal baru. Diantaranya adalah
1. Saya baru tau kalau ternyata, 10 hari terakhir Ramadhan itu sangat menentukan “nasib” kita setahun ke depan.
2. Idul Fitri itu bukan suatu hari yang menjadi FINAL yang harus dirayakan besar2an, tapi merupakan “gate” terakhir setelah kita melalui bulan Ramadhan.
3. Mengejar malam Lailatul Qadr itu jangan hanya hari genap di 10 malam terakhir, tapi full dikejar di 10 malam terakhir. Kenapa? Karena tidak ada 1 pun yang tahu kapan itu Lailatul Qadr kecuali Allah SWT.
4. Betapa Kuasanya Allah SWT, yang tidak pernah melakukan “transparansi” atas amalan seseorang. Coba bayangkan, kalau seandainya Allah melakukan “transparansi” akan amalan kita? Sangat mungkin kita akan membanding2 kan amalan kita dengan orang lain, atau mungkin muncul keinginan untuk pamer hasil amalan kita. Subhanallah, Allah Maha Mengetahui segala nya.

Next Page »