Semenjak berbisnis di bidang ISP, saya sering denger bahwa ada seorang wanita Kominfo yang sangat disegani dan “ditakuti” oleh para praktisi ISP. Ibu Mini namanya. Bu Mini adalah salah satu tim Kementrian Komunikasi dan Informatika. Terkenal di kalangan praktisi ISP karena ketegasan dan “kegalakan” nya dalam menegakkan aturan dan undang-undang Kemkominfo.

Beruntung beberapa hari yang lalu saya ditakdirkan oleh Allah untuk berbincang beberapa saat dengan beliau di Bandung. Berawal dari obrolan pengalaman umrah, hingga bagaimana beliau menertibkan ISP – ISP ilegal (buat yang pernah ditertibkan sama beliau, yang sabar yaa.. 😀 )

Memiliki Prinsip Hidup yang kuat. Itu kesan pertama saya terhadap beliau. Hal ini tertangkap saya ketika beliau berpesan kepada saya “Mas, untuk filtering konten negatif, tolong sangat diperhatikan. Saya kerja di Kominfo ini adalah amanah dari Allah, saya ga maen2 untuk masalah konten ini. Karena konten negatif ini bisa merusak generasi bangsa”. Wooooowww dahsyaatttt.. 😀

Hal kedua yang saya dapatkan dari beliau adalah karakter tegas. Yes beliau sangat tegas. Begitu mencium ISP ilegal, beliau langsung tindak tegas ISP tersebut. Ga mengenal seberapa besar ISP tersebut, seberapa baik owner ISP tersebut, kalau sudah ilegal ya sikaaattt!!!!

Walaupun hanya ngobrol 1-2 jam (yang diselingi dengan verifikasi data2 kerjaan), banyak sekali pelajaran yang bisa saya dapatkan dari bu Sumini ini. Semoga ibu Sumini tetap sehat, istiqomah dalam menyehatkan iklim IT di Indonesia dan dimudahkan segala urusannya. Aamiiiiinnn 🙂

Advertisements

Screenshot 2017-09-14 07.15.58

Saya punya senior sekaligus “guru” saya. Kerjaannya itu enak banget, keluyuran kesana kemari, nongkrong kesana kemari, posting lunch dinner bareng pejabat, bareng temen, bareng artis, aktifitas sosial nya jalan terus, dan bisa pulang kampung seenak hati. Saya sempat mikir, ini orang kapan kerjanya ya. Kerjaan nya begitu melulu dari hari ke hari. Dan beberapa minggu yang lalu senior saya berbisik ke saya

Andika, NETWORKING is my NET.. WORK

Hmmm… Setelah saya pikir-pikir, bener juga ya. Sebagai profesional yang bergerak di bidang marketing & relationship, kerjaannya ya relationship. Kerjaannya ya networking. Kalau mereka banyak di kantor, berarti dia malah ga kerja. Dan kalau bicara networking, bisa formal bisa informal. Tapi lebih dominan informal biasanya hehehe..

So, bagi sebagian orang, shilaturahim/nongkrong/networking adalah bagian dari pekerjaannya. Dan ingat, dibalik aktifitas yang terkesan “maen2” atau “nyante” tersebut, mereka punya target-target perusahaan yang harus mereka achieve. So, mau kerjaannya kaya gitu? 😀

 

#4of120 #2017

Screenshot 2017-09-14 06.51.14

Saya tertarik untuk menulis tema ini karena dalam beberapa minggu belakangan ini saya mendapatkan pelajaran dari salah satu tim saya.

Jadi dia adalah anak SMK yang magang di tempat saya. Salah satu kebijakan dari perusahaan adalah memberikan uang saku bulanan ke setiap anak magang. Tidak seperti anak-anak magang yang lain, anak magang yang satu ini bener2 beda. Setelah dia nerima uang saku nya, dia menghampiri saya, dan mengucapkan “Pak Andika, terimakasih ya pak” dengan wajah dan tutur kata yang mungkin tidak biasa. Wajah yang sumringah, tutur kata yang sangat tulus mengucapkan terimakasih dan mensyukuri apa yang di dapat nya.

Saya pun, tersentuh sekali dengan cara dia mengucapkan terimakasih. Rasanya bahagiaaaa sekali hati ini. Dan tiba2 spontan muncul pikiran “Nanti kalau ada rejeki lagi saya kasih ke dia lagi deh”. Luar biasa. Hanya karena melihat mendengar dan merasakan ekspresi terimakasih dari orang yang mendapatkan sesuatu dari kita.

Pelajaran yang saya dapat disini adalah, seandainya kita bisa berucap terimakasih setulus itu kepada orang yang membantu atau memberi kita sesuatu, tentu orang yang membantu atau memberi kita sesuatu akan bahagiaaa sekali (bahasa lain nya, ga kapok ngasih kita, malah ketagihan.). Apalagi, kalau kita bisa melakukan itu kepada Allah SWT yang Maha Pemberi, kita mensyukuri pemberian Allah dengan bahagia, tulus, dan sumringah, pasti Allah senang. Bahkan Allah menjanjikan bahwa Allah akan menambahkan nikmat kepada hamba yang mensyukuri nikmat-nikmat NYA.

Nah, yukk.. biasakan kita mensyukuri setiap hal. Jangan pelit untuk mengucapkan “terimakasih”. Karena ucapan “terimakasih” yang tulus, sangat dahsyat dampaknya.

 

#3of120 #2017

2017-09-02 12.00.39

Kemaren istri saya minta ditemenin untuk belanja perlengkapan bayi (maklum sudha masuk minggu ke 36). Sesampainya di toko, seperti biasa disambut oleh salah satu SPG. Tak berhenti disitu, selang beberapa menit kemudian, didatengin lagi sama SPG yang lain, sampai akhir nya total ada 3 orang SPG yang “ngeroyok” istri saya. Mereka menawarkan barang-barang mulai dari yang ada di list perlengkapan bayi, sampai barang2 yang ga kepikiran sama istri. Luar biasa!!!

Dari perspektif bisnis, strategi yang dilakukan toko ini sangat bagus. Karena mereka akan jual barang sebanyak-banyaknya ke customer. Kalau perlu, dompet customer harus sampai kosong baru mereka berhenti. wkwkwkwk.. Tapi ya, memang bisnis harus begitu, agresif mengejar revenue dengan cara yang terhormat. Hal-hal receh pun tetap harus dikejar. Seperti kata mentor saya, kang Rendy, selalu bilang untuk optimalkan revenue. Contoh supermarket, di kanan kiri kasir sengaja dikasih aneka cemilan atau barang-barang ringan supaya terus menggoda customer yang sedang antri bayar.

So, optimalkan revenue bisnis kita. Susun strategi jualan terbaik. Jangan biarkan customer kita belanja “seperlunya”, tapi harus belanja “sebanyak-banyaknya”. 😀

#2of120 #2017

Screenshot 2017-09-01 16.41.29

Jika tiba-tiba rasa ‘down’ sekejap dengan bisnis, saya selalu akan ingat kembali akan Abdul Rahman bin Auf dengan kisah kurma busuknya.

Kata Rasulullah saw, Abdul Rahman bin Auf r.a akan masuk syurga akhir sekali kerana terlalu kaya.
Ini kerana orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.

Maka mendengarkan ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun putar kepala otaknya berfikir keras, bagaimana agar bisa jadi miskin lagi supaya dapat masuk syurga awal.

Setelah perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdul Rahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat r.hum tadi dengan harga kurma bagus.

Kesemuanya bersyukur..Alhamdulillah..kurma yang dikhuatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdul Rahman bin Auf.

Sahabat gembira.
Abdul Rahman bin Auf r.a pun gembira.
Semua happy!

Sahabat lain gembira sebab ada sales.
Abdul Rahman bin Auf r.a pula gembira sebab…
jatuh miskin!

MasyaAllah..hebat kan?
Coba kalau kita?

Bisnes goyang sedikit saja, sudah teriak tak tentu arah dah.

Abdul Rahman bin Auf r.a berasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu.
Ya lah, sebab sudah miskin.

Namun.. Subhanallah..perancangan Allah itu memang paling baik
Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.

Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabak penyakit menular, dan obat yg bisa menyembuhkannya adalah KURMA BUSUK!

Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdul Rahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali ganda harga kurma biasa.

Allahuakbar..

Jadi..yang beri rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?

ALLAH swt lah yang Memberi Rezeki.

Ibrah dari kisah ini sangat special buat saya sebab ia buat saya sangat YAKIN bahawa rezeki itu totally dari Allah. Bukan sebab bisnes kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan yang akan laku keras dan omzet tinggi

Kadang-kadang, KEYAKINAN dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat…

We plan,
but Allah has also planned everything for us.
If something goes wrong, it went wrong for a good reason.

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri sahabat yang sedang diuji dalam usahanya….tapi bukan berarti tanpa ikhtiar untuk memproduksi yg terbaik lho….❤, ikhtiar tetap maksimal tp keputusan terkhir di tangan Allah semoga kita selalu bisa menjadi hamba yg tawakkal…. Aamin

 

#1of120 #2017


Hidup harus diperjuangkan. Setiap mahluk yang ada di dunia ini WAJIB memperjuangkan hidupnya. Tanpa memperjuangkan hidup, mustahil impian kita tercapai. Banyak jalan untuk memperjuangkan hidup, mulai dari yang susah hingga yang mudah. Mulai dari yang halal hingga haram. Silahkan memilih, karena setiap hal yang kita perjuangkan harus dapat kita pertanggungjawabkan. Selamat berjuang wahai para pejuang!!! 

Entah sudah beberapa kali saya mendapatkan notifikasi dari linkedin yang memberitahukan bahwa ada teman di jaringan saya yang update profil linked in nya. Kemudian saya berpikir, koq saya ga pernah update profil linkedin ya?

Setelah saya berpikir sejenak, baru saya menemukan “sedikit hipotesa” saya. Linkedin itu untuk orang-orang yang bergerak di bidang profesional. Orang-orang yang punya jenjang karier. Aktifitas mereka kadang berbeda dengan orang orang yang berprofesi sebagai seorang pengusaha. Bagi orang profesional, mengikuti kursus yang berstandar, dan bersertifikasi adalah nilai jual mereka terhadap perusahaan. Sehingga wajar jika mereka menampilkan segudang sertifikasi mereka di linked in mereka. Tapi bagi seorang pengusaha, sertifikasi bagi dirinya tidak terlalu prioritas. Mencari orang yang ber sertifikasi untuk membantu perusahaan nya mungkin lebih worth bagi seorang pengusaha.

Kemudian masalah jenjang karier, bagi seorang profesional, karier demi karier dilakoni dan perlu di publish karena “menjual”. Tapi bagi pengusaha, di saat bikin usaha, posisi nya sudah DIREKTUR, mau jenjang karier gmn? Itu sudah posisi yang paling atas hehe. Pengusaha lebih baik menceritakan portofolio perusahaan nya daripada portofolio dirinya. Karena membangun tangga-tangga portofolio perusahaan lebih mendatangkan benefit bagi diri seorang pengusaha.