Bisnis


2017-09-02 12.00.39

Kemaren istri saya minta ditemenin untuk belanja perlengkapan bayi (maklum sudha masuk minggu ke 36). Sesampainya di toko, seperti biasa disambut oleh salah satu SPG. Tak berhenti disitu, selang beberapa menit kemudian, didatengin lagi sama SPG yang lain, sampai akhir nya total ada 3 orang SPG yang “ngeroyok” istri saya. Mereka menawarkan barang-barang mulai dari yang ada di list perlengkapan bayi, sampai barang2 yang ga kepikiran sama istri. Luar biasa!!!

Dari perspektif bisnis, strategi yang dilakukan toko ini sangat bagus. Karena mereka akan jual barang sebanyak-banyaknya ke customer. Kalau perlu, dompet customer harus sampai kosong baru mereka berhenti. wkwkwkwk.. Tapi ya, memang bisnis harus begitu, agresif mengejar revenue dengan cara yang terhormat. Hal-hal receh pun tetap harus dikejar. Seperti kata mentor saya, kang Rendy, selalu bilang untuk optimalkan revenue. Contoh supermarket, di kanan kiri kasir sengaja dikasih aneka cemilan atau barang-barang ringan supaya terus menggoda customer yang sedang antri bayar.

So, optimalkan revenue bisnis kita. Susun strategi jualan terbaik. Jangan biarkan customer kita belanja “seperlunya”, tapi harus belanja “sebanyak-banyaknya”. πŸ˜€

#2of120 #2017

Advertisements

3

Dalam menjalankan usaha, untung rugi adalah konsekuensi. Ketika kita melakukan usaha dan untung, keluh kesah spertinya susah untuk keluar dari mulut ini. Namun sebaliknya, ketika usaha yang kita bangun merugi, mungkin kita akan memiliki banyak alasan untuk menyesali apa yang kita bangun ini.

Tapi ingat, dibalik suatu kerugian, pasti ada pembelajaran. Bagi saya, mau usaha untung, mau usaha rugi, 3 hal berikut ini harus tetap tumbuh dan bertambah.

1. Network / Shilaturahmi

Dalam berbisnis, mustahil kita bisa menjalankan bisnis itu sendiri. Kita pasti berhubungan dengan supplier, customer, tetangga usaha, karyawan, dan orang-orang lain yang berada di sekeliling kita. Nah, dalam kondisi usaha bangkrut ataupun untung, shilaturahim dengan orang-orang ini tidak boleh hilang tenggelam oleh waktu. Harus terus bertambah.. bertambah.. dan bertambah.. Uang boleh hilang, toko boleh tutup, tapi shilaturahim jalan terusssss…
2. Skill / Knowledge

Dalam menjalankan usaha pun, kita pasti membutuhkan Knowledge dan skill. Ketika usaha bangkrut, knowledge ataupun skill yang kita dapatkan harus tetap melekat pada diri kita. Ga boleh hilang, malah harus bertambah.

3. Integritas

Nah, ini adalah poin yang harus sangat diperhatikan. Pada saat kita mengalami kerugian, pasti beban kita semakin berat. Mulai dari mikirin karyawan yang jadi menganggur, mikirin hutang investor, ataupun hutang-hutang yang lain. Saking beratnya permasalahan-permasalahan pada saat bangkrut ini, tidak sedikit pengusaha yang malah kabur dari masalah bahkan mungkin ada yang sampai sakit jiwa. Bagi saya, Integritas adalah sesuatu yang harus kita pertahankan sampai mati. Bahasa tentara nya adalah “HARGA MATI” hehehe. Dalam kondisi rugi, integritas kita sangat dipertaruhkan, bangkrut nya bisnis bisa menghancurkan integritas kita, bisa juga menjadi “batu lompatan” untuk melejitkan integritas kita. So, apapun kondisi usaha kita, integritas diri kita harus terus bertambah.

3 hal diatas adalah hal-hal yang (seharusnya) terus tumbuh dalam kondisi usaha apapun. πŸ˜‰

cost

Aneh ya judul nya? πŸ˜€ Saya juga aneh waktu denger 2 kata itu. πŸ˜€ Tapi setelah dipikir-pikir memang ada perbedaan antara stupid cost dan learning cost. And we should know them. πŸ™‚

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengeluarkan sejumlah uang untuk di investasikan pada usaha teman. Pada saat itu saya awam sekali dengan dunia investasi. Karena investasi nya menguntungkan, saya terus menambah jumlah dana investasi itu, tanpa mempertimbangkan banyak hal. Wajar kan? karna makin banyak uang yang kita investasikan, makin besar keuntungannya. πŸ™‚ Dan seiring dengan banyak nya jumlah investasi tersebut, ternyata teman saya ini menghilang tanpa jejak. Alhasil, dana yang saya investasikan ke usaha teman saya itu hilang bersamaan dengan hilang nya teman saya. Β Dana yang tadinya saya harapkan untuk bisa tumbuh berlipat-lipat, malah “hilang”. Nah, dana yang “hilang” itu, bisa kita namakan stupid cost. Kenapa? Karena dana itu keluar karena kelalaian saya. Dari kejadian itu, saya belajar bagaimana berinvestasi pada usaha seseorang. Minimal kejadian ini jangan sampai terulang kembali. πŸ™‚

Apa bedanya sama learning cost? Kalo learning cost itu, biaya yang kita keluarkan dan secara sadar kita tahu bahwa dana tersebut tidak akan tumbuh. boro2 tumbuh, balik pun ga (balik secara materi yaa.. πŸ˜€ ). Misal nya ketika kita mau ikut seminar “cara berinvestasi”, untuk daftar seminar, kita butuh dana kan? Nah dana yang kita keluarkan untuk ikut seminar tersebut, itulah Learning Cost. πŸ™‚

Gimana? Sudah bisa membedakan antara stupid cost dengan learning cost kan? Walaupun kedua istilah tersebut punya perbedaan, tapi kedua istilah tersebut juga punya persamaan. Persamaannya adalah, ujung-ujung nya kita sama-sama belajar. Dari cerita diatas, di ujung stupid cost yang saya keluarkan, saya bisa belajar dari pengalaman tersebut bagaimana cara berinvestasi pada seseorang. Di ujung learning cost yang kita keluarkan kita juga belajar bagaimana cara berinvestasi pada seseorang. πŸ™‚ Lantas mana yang paling baik? Balance antara kedua nya, karena stupid cost itu adalah doing dulu baru learning, kalo Learning cost itu learning dulu baru doing. πŸ™‚ Semoga bermanfaat πŸ™‚

“If you want to be a 1st class Kung Fu player, you have to suffer a lot, you have to practice, you have to learn, you have to be good people. You have to have the spirit of never give up, the fighting spirit, keep on doing.Β If you don’t give up, you still have a chance. –Β Jack Ma” (CNN interview)

Quote diatas saya baca tadi sore dari milis komunitas TDA Bandung. Sebenernya kata2 di quote nya biasa aja, tapi entah mengapa saya koq ngerasa ngena banget sama quote diatas. Quote diatas mengandung banyak makna, yaitu

  • Untuk menjadi yang terbaik, saya bilang JUARA, kita harus melakukan 4 hal, berani untuk banyak berkorban, terus berlatih, terus belajar, dan menjadi good people (Sorry, saya belum nemu bahasa Indonesia yg merepresentasikan “good people” πŸ˜€ )
  • Selain itu kita harus memiliki semangat untuk tidak menyerah, semangat bertanding, dan terus bertindak
  • Dan kata penutup yang paling nampol (baca aja “ampuh” πŸ˜€ ) adalah Jika kita tidak menyerah, berarti kita masih punya kesempatan πŸ™‚

layang-layang

Jika kita analogikan bisnis itu adalah layangan. Layangan akan terbang tinggi kalau apa? kalau yang nerbangin jagoan? Yapz, betul.. Karena nerbangin layangan juga perlu “skill” sedikit.. πŸ™‚ Hanya itu? Tidak.. kalau layangan nya bagus dan mahal? hmmm.. bisa juga.. Trus apalagi? ANGIN. Yes, kalau yang nerbangin jagoan, layangannya mahal, tapi angin nya ga kenceng alias sepoi2, apakah layangan nya bakal terbang? Ternyata tidak bos.. Lantas, coba kita balik. Kalau angin nya kencang, orang yg nerbangin ga jago maen layangan, layangan nya bisa terbang ga? BISA, walaupun mungkin terbangnya ga sempurna menukik kanan, menukik kiri ga stabil. Tapi tetep bisa terbang kan? πŸ™‚

Nah, bisnis itu ibarat kita bermain layangan. πŸ™‚ Bisnis/perusahaan yang kita kelola adalah layangan nya. Pemain layangan adalah manajemen bisnis nya. Angin adalah market bisnis nya. Dalam membangun bisnis, kita harus tau dulu bahwa bisnis kita ini memiliki market yang sangat besar. Semakin bear market kita, semakin kencang bisnis kita berjalan. Jangan bisnis di angin sepoi-sepoi. Mau sehebat apapun pebisnis, sebagus apapun ide bisnis nya, tapi kalau market nya sempit banget, kemungkinan “terbang” nya pasti kecil. So, dalam memilih bisnis, pilihlah bisnis yang punya market besar. Ibarat layangan, terbangkan layangan di tempat yg angin nya besar.

Tapi selain cari market yang kencang, kita juga musti siapkan manajemen yang baik. Coba kita lihat, kalau kita belum berpengalaman berbisnis, trus punya bisnis / ide bisnis yang dibutuhkan banyak orang. Apa yang terjadi? bisnis itu akan “terbang” cepat, tapi karena manajemen nya ga bagus, begitu terbang tinggi, bisnis ini bisa menukik ke kanan, menukik ke kiri, dan mungkin bisa menukik ke bawah tak terkendali yang akhirnya bangkrut. So, business isn’t simple right? But business is so challenging.. πŸ™‚

bubble propertyPagi tadi saya berdiskusi cukup intens dengan salah satu guru bisnis saya. Saya bilang guru, karena banyak pemikiran2 “aneh” beliau yang out of the box. πŸ˜€ Tema diskusi nya adalah bubble property. Seperti kita ketahui bersama bahwa investasi di bidang property saat ini lagi booming2 nya. Namun guru saya cukup membuka pikiran saya terkait dengan bubble ini. Begini ceritanya eng… ing… eng…

Kenaikan harga property sebenarnya harga pasar yang menentukan, tidak ada acuan standar berapa harga suatu property harus kita jual. Dan biasanya harga pasar di sekitar lingkungan tsb lah yang akan menjadi harga acuan awal di lingkunagn tersebut. Saya bilang acuan awal, karena harga yang ditetapkan oleh penjual bisa lebih murah dari harga acuan awal, bisa juga lebih mahal. Kenapa harga property naik terus? Karena sebagian besar pemilik property ingin mendapatkan margin sebanyak-banyak nya. Ok, kapan kenaikan itu mengalami “puncak” nya? Pertanyaan inilah yang baru saya dapatkan jawabannya tadi pagi.

Jadi begini, deal terjadi apabila ada kesepakatan antara penjual dan pembeli salah satu nya adalah harga. Dari sisi penjual, motivasi terbanyak menjual property adalah mendapatkan margin/keuntungan. walopun ada sebagian kecil yang menjual property karena “terpaksa” alias butuh uang.Dengan motivasi mendapatkan margin/keuntungan sebesar2 nya, tak dapat dipungkiri bahwa harga property semakin lama semakin naik.

Sekarang mari kita lihat dari sisi pembeli, pembeli akan membeli rumah tinggal dengan berbagai macam kepentingan, seperti kepentingan investasi/ karena memang belum punya rumah/ kepentingan yang lain. Cara pembayarannya pun bermacam2. Ada yang KPR, ada beli cash keras, ada yang cash bertahap. Di sini saya akan cerita tentang proses KPR. Mari kita lihat, salah satu hal penting yang dilihat oleh bank pada saat menseleksi calon kreditur adalah gaji/pengahsilan bulanan calon kreditur nya. Sekarang coba lihat, dengan harga property cash 300 juta an, cicilan rumah untuk 10-15 tahun ada di angka 2,5 – 3 juta an. Dan berdasarkan income itulah bank pasti mempertimbangkan pendapatan kreditur, biaya hidup kreditur, dan lain sebagainya. Dengan asumsi bobot kredit adalah 30% dari penghasilan, artinya untuk cicilan 3 juta an sebulan, kreditur harus memiliki income minimal 10 juta. Itu baru harga rumah yang 300 juta an lho ya.. Gimana kalo harganya diatas itu? WOW!!!

Sekarang coba guna kan kacamata perusahaan. Untuk menggaji karyawan, sebagian perusahaan akan menjadikan UMR sebagai patokan . Dan Kita lihat UMR di Jakarta, UMR di jakarta lebih kecil dari harga cicilan diatas. Dan kenaikan harga property tidak akan menjadi trigger langsung atas kenaikan gaji karyawan perusahaan.

Ok. sekarang mari kita lihat 3 kacamata tadi (penjual, bank, dan perusahaan). Kenaikan harga yang terus di ungkit oleh penjual, akan berefek pada tingginya cicilan KPR yang ditentukan oleh bank, dan dalam menentukan gaji karyawan, perusahaan mengacu pada UMR, bukan kenaikan harga property. Lantas? Kapan bubble akan terjadi? Ketika penjual ingin menjual property nya dengan harga tinggi, di sisi lain, pembeli (dalam hal ini gaji pembeli) tidak memenuhi syarat KPR dari bank, di titik itulah bubble akan terjadi. Karena tidak ada titik temu antara penjual dan pembeli, sehingga posisi siapa yang paling bisa menyesuaikan? pembeli atau penjual? πŸ™‚

Note: Tulisan ini hanya lah salah satu cara pandang atas industri property. Bukan suatu judgement. Setidaknya pembaca punya sedikit insight tentang bubble property πŸ™‚