Akademis


buku thesisJudul nya rada antik yaa? πŸ˜€ Jadi gini ceritanya. Beberapa hari yang lalu ada seorang mahasiswa pascasarjana yang chat sama saya. Intinya, saat ini dia sedang kesulitan mencari judul thesis, dan mulai putus asa (bahasa dia desperado) karena judul-judul yang dia ajukan ke dosen nya ditolak terus. Singkat cerita beliau minta bantuan saya untuk bantuin atau cari teman yang bisa bantuin dia.

Berhubung jurusan nya ga sama dengan saya, saya kurang bisa maksimal bantuin dia. Tapi saya sempat sedikit cerita pengalaman saya waktu sedang berjuang lulus thesis dulu ke dia. Β Posisi saya waktu ngerjain thesis sama dengan teman saya ini, yaitu, kuliah sambil kerja. Karena saya banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, akhirnya thesis pun terbengkalai. Mulailah muncul prasangka2 yang negatif terhadap thesis saya ini. Mulai dari dosennya yang susah lah, judul nya susah ketemu lah, terlalu berat lah dan lain sebagainya.
Sampai akhirnya saya ditegur (lebih tepatnya dimarahi) oleh dosen saya,
“Kamu jangan bisnis melulu lah, luangkan waktu 1 bulan aja untuk fokus ngerjain thesis, setelah itu mau jungkir balik ngurusin bisnis juga ga masalah”.
Kata-kata bu dosen ini benar-benar luar biasa buat saya. Akhirnya, untuk sementara waktu saya memilih untuk menomor duakan bisnis, dan menomor satukan thesis. Setiap hari saya luangkan waktu 5-8 jam untuk ngerjain thesis. Yang selama ini saya biasa ngerjain di rumah (yang malah ga produktif), saya ubah jadi tiap hari ke kampus untuk belajar. Dan Alhamdulillah ga sampai 1 bulan thesis saya selesai :D.
SO, buat kamu-kamu yang lagi berjibaku ngerjain thesis dan mulai desperado, coba tanya ke diri sendiri
  1. Dalam sehari Berapa jam waktu yang kamu luangkan untuk ngerjain thesis (baca jurnal, konsultasi, atau nulis thesis)? Kalau jawabannya kurang dari 2 jam, tetooottttt… Berarti kamu nya aja yang malas ngerjan thesis
  2. Berapa banyak jurnal yang sudah kamu baca sampai tuntas (baca beneran lho yaa.. bukan baca cuplikan-cuplikan nya doank)? kalau jawabannya kurang dari 5 jurnal, tetooootttt… Berarti kamu malas ngerjain thesis.
Faktor terkuat lambatnya thesis adalah MALAS!!!!
Advertisements

relationshipPagi ini cukup menyenangkan bagi saya, mendapat suatu ilmundi lapangan dimana ilmu tsb biasanya saya ajarkan di kelas. Customer Relationship. Yapz.. itulah ilmu yg saya dapatkan pagi ini dari seorang ibu penjual nasi uduk.

Ceritanya begini, pagi ini seperti biasa setelah lari pagi saya selalu menyempatkan diri untuk beli sarapan dulu sebelum pulang. Tujuan nya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mendapatkan asupan gizi dari sarapan. πŸ˜€ Hampir setiap hari saya beli sarapan di ibu nasi uduk ini, dan alangkah sedih nya saya begitubsampe di tempat nasi uduk, antrian si ibu lagi penuh, dan masih harus membungkus pesanan nasi belasan bungkus. 😦

Melihat antrian yang sepanjang itu, saya sempat berpikir untuk membatalkan sarapan dan pulang dalam keadaan perut kosong. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk tetap bertahan bersabar menunggu giliran dilayani. Kira-kira 1 menit setelah saya memutuskan untuk mengantri, tiba2 ibu nasi uduk ini sudah menyerahkan sebungkus nasi uduk kepada saya. Alangkah kagetnya saya. Bahkan saya sampai bertanya 2 kali ke si ibu “bu, ini pesanan saya?” Ternyata saya ga perlu ngantri bermenit2 sesuai yang saya bayangkan. Si ibu memprioritaskan saya dan mem bypass antrian untuk melayani saya terlebih dahuki. Dan isinya pun sesuai dengan yang saya inginkan (karna biasanya pesan nya itu2 aja hehehe). Wow.. ini baru super pelayanannya. More than my expectation. Kalau boleh ngasih rate dengan range 1-4, saya pasti ngeklik 4 pada saat itu. πŸ™‚

Yah, itu mungkin sekilas cerita sederhana yang dapat merepresentasi kan ilmu customer relationship. Kenapa saya bilang kejadian ini adalah representasi dari customer relationship, karena ada 2 hal yang dilakukan si ibu, pertama memprioritaskan saya yang berarti bahwa si ibu membayar loyalitas yang saya berikan kepada si ibu, dan yang kedua adalah menyajikan nasi uduk dengan isi sesuai dengan yang biasanya saya pesan yang berarti bahwa si ibu merekam behaviour saya setiap saya beli nasi di si ibu. Yah, itulah cerita sederhana dari sebuah relationship marketing. Semoga bermanfaat. πŸ™‚

student

Yapz, sesuai judul ini, beberapa minggu belakangan ini kalimat “merubah NO ONE menjadi SOMEONE” terus membahana di pikiran ini. Berprofesi sebagai dosen, tentu kalimat tersebut menjadi cambuk yang sangat keras bagi ku untuk terus istiqomah di jalan ini. Well, merubah No One menjadi someone bukanlah proses yang singkat dan mudah. Perlu proses, perjuangan dan pengorbanan tentunya.

Waktu 4 tahun pendidikan S1 tentu sangat berpengaruh bagi masa depan generasi2 penerus ku ini. Kesempatan besar bagi kami untuk dapat meng “inject” hal2 positif didalam diri mahasiswa. Tidak ada alasan bagi ku untuk tidak memperkaya diri dengan ilmu,knowledge dan pengalaman, untuk kemudian dibagikan kepada adek2 generasi penerusku ini.

Semoga Allah meridhai dan memudahkan langkah ku ini. Amin