Salah satu kewajiban kita sebagai pemilik kendaraan bermotor adalah bayar pajak tahunan. Dan two thumbs up buat samsat Depok, karena hari ini saya ngurus pajak motor ga nyampe 30 menit sudah selesai tanpa calo. Berikut info terkait Samsat Depok
1. Lokasi: ITC Depok belakang stasiun Depok Baru (sudah pindah dari Depok Town Square)
2. Jam buka 09.00 WIB
3. Syarat urus Pajak Kendaraan Bermotor
a. KTP Fotocopy dan asli
b. Bukti asli pembayaran pajak tahun sebelum nya
c. STNK Fotocopy dan asli
d. BPKB fotocopy
4. “Tersedia” calo pengurusan, fee sekitar 50rbu an (not recommended karena ngurus nya gampang koq, mending uang nya buat beli bakso hehe)

Berikut tips supaya mengurus pajak kurang dari 30 menit

1. Siapkan dokumen2 yang diperlukan. Saran saya, bawa aja BPKB asli, STNK asli, KTP asli dan Bukti pajak tahun lalu asli. Kemudian serahin semua dokumen asli itu ke tukang fotocopy yang ada di dekat outlet samsat supaya diberkaskan dan dirapikan sekalian sama dia. Biaya nya 5rbu aja.
2. Siapkan uang pajak nya cash (patokan jumlah nya lihat aja dari bukti pembayaran tahun lalu)
3. Datang di awal hari, karena Samsat Depok buka mulai pukul 09.00, usahakan sebelum jam 09.00 sudah datang dan kumpulkan berkas2 di loket pendaftaran (walaupun samsat belum buka, kita sudah bisa numpuk berkas kita sekaligus pengganti nomor antrian, karena ga ada nmr antrian di samsat)

Semoga bermanfaat 🙂

Bagi orang yang sudah biasa menggunakan ART (Asisten Rumah Tangga) mungkin sudah paham dengan judul postingan saya ini. Yuoz benar sekali, lebaran erat kaitannya dengan issue2 ART, diantaranya adalah
1. ART pulang kampung untuk lebaran, para penghuni rumah kelabakan dengan pekerjaan2 rumah yang biasa nya dikerjakan oleh ART. Untuk menghindarinya, tidak sedikit yang menghabiskan liburannya tidak di rumah, melainkan wisata atau menginap di hotel. Selain itu, sekarang juga ada yang namanya ART infal, mereka ini sengaja tidak lebaran di rumah nya, tetapi menggantikan ART yang lagi lebaran. Gaji nya? Yaa jelas lebih mahal. Yang pernah nawarin infal ke saya minta 180rbu per hari. Wooowww 😀

2. Issue yang kedua adalah ART ga balik lagi, ini hal yang sangat menyebalkan. Apalagi kalau waktu pamit pulang kampung ga ngasih kabar kalau ga mau balik lagi.

So, buat yang biasa pakai ART, waspadalah dengan momen lebaran ini, karena (menurut saya) lebaran ini momen kritis bagi ART kita untuk dapat di waspadai.

Ramadhan kali ini saya mendapatkan beberapa hal baru. Diantaranya adalah
1. Saya baru tau kalau ternyata, 10 hari terakhir Ramadhan itu sangat menentukan “nasib” kita setahun ke depan.
2. Idul Fitri itu bukan suatu hari yang menjadi FINAL yang harus dirayakan besar2an, tapi merupakan “gate” terakhir setelah kita melalui bulan Ramadhan.
3. Mengejar malam Lailatul Qadr itu jangan hanya hari genap di 10 malam terakhir, tapi full dikejar di 10 malam terakhir. Kenapa? Karena tidak ada 1 pun yang tahu kapan itu Lailatul Qadr kecuali Allah SWT.
4. Betapa Kuasanya Allah SWT, yang tidak pernah melakukan “transparansi” atas amalan seseorang. Coba bayangkan, kalau seandainya Allah melakukan “transparansi” akan amalan kita? Sangat mungkin kita akan membanding2 kan amalan kita dengan orang lain, atau mungkin muncul keinginan untuk pamer hasil amalan kita. Subhanallah, Allah Maha Mengetahui segala nya.

Pagi ini saya berniat untuk mengurus IMB di suatu daerah. Berkas-berkas yang dipersyaratkan pun sudah saya siapkan dari pagi. Karena perlu tandatangan kepala desa/lurah, saya mampir ke kelurahan terlebih dahulu untuk bertemu pak lurah. Tak lama setelah tiba di kantor kelurahan, saya bertemu pak lurah. Pak Lurah pun tidak berbelit-belit, spontan beliau memeriksa berkas2 saya dengan cepat dan tidak teliti. Saya yakin hanya formalitas saja ngecek nya. Kemudian terjadilah komunikasi
Pak Lurah : “ok bisa, ini bisa saya tandatangani. Tapi kalau ngurus IMB gini kena PAD (Pendapatan Asli Daerah) kelurahan”
Saya : “Oh iya, berapa pak?”
Pak Lurah : “10rbu per meter nya”
Saya : “@#==//&@(@($&#^@(#(”

Akhirnya keluarlah dana sekian ratus ribu untuk “PAD kelurahan”. Yang bikin saya heran, kalau misal masuk PAD kelurahan, masa ga ada bukti pembayaran PAD sama sekali?

Sesampainya di kecamatan, saya ketemu dengan pejabat kecamatan yang ngurus IMB, dan terjadilah komunikasi berikut
Pejabat kecamatan: “IMB ada biayanya ya mas. Tadi berapa kata pak Lurah?”
Saya : “Wah ga bilang ke saya bu.” (Saya bingung, kenapa biaya nya koq ga fix, tertulis dan terpublish???)
Pejabat kecamatan pun mencoba menghubungi pak Lurah dari handphone nya. Namun belum juga tersambung, salah satu staf ibu pejabat itu bilang ke saya.
Staf pejabat: “Biasanya biaya nya Rp.27.500 per meter mas”
Si ibu pun mulai ngitung di kalkulator dan muncullah angka x,xx juta. Dan si ibu dengan sedikit ceria bilang ” sudah x juta saja”. Gile bro, secepat itu ngasih diskon. Dan lagi-lagi ga ada bukti pembayaran sama sekali dari kecamatan.

Sebenernya yang bikin saya kesel bukan jumlah nya, tapi tidak transparan nya proses ini yang bikin kesal. Kalau pun memang harus bayar segitu, tapi ada bukti pembayaran yang sah, ada panduan pembayaran nya, saya ga ragu untuk membayar. Kalau semua proses pemerintahan di level bawah seperti ini, wajar kalau negara Indonesia ini kacau balau. Semoga pemimpin2 baru nantinya lebih tertib dan transparan. Amin

Judul diatas sepertinya sudah cukup mewakili isi dari postingan saya kali ini. Yupz bener, saya baru paham kenapa kita jangan tahan karyawan yang ingin keluar
Satu, karyawan yang tetap bekerja setelah menyatakan kalau dia pengen keluar, kinerjanya pasti sudah tidak maksimal. Boro2 menghasilkan prestasi kerja, bisa jadi malah membuat masalah di lingkungan kerja. Walaupun secara fisik mereka hadir di kantor, pikiran mereka sudah di “job baru” nya. Hari-hari kerja mereka lalui hanya untuk menunggu hari terakhir mereka kerja. Ga enak kan? Buat karyawan yang mengajukan resign ga enak, buat bos mereka juga ga enak. So, sama2 ga enak.

So, kalau memang ada karyawan yang ingin keluar, jangan pernah ditahan. Karena akan merugikan perusahaan

Dua minggu lalu saya diskusi panjang lebar dengan kolega saya. Hingga tiba di salah satu diskusi tentang pertumbuhan perusahaan. Kolega saya bilang “perusahaan-perusahaan besar ,embatasi pertumbuhannya antara 10-15% per tahun.”
What?!? Saya sempat kaget dengan pernyataan teman saya tersebut. Bukannya pertumbuhan yang signifikan itu sangat baik bagi perusahaan? Setelah saya cerna kembali, ternyata make sense kalau perusahaan besar membatasi pertumbuhan nya. Kenapa? Berikut adalah analisa saya
1. Perusahaan besar itu fokus pada long term sustainability
Percuma perusahaan tumbuh 100% tahun ini, tapi tahun berikut nya ambruk/bangkrut. Lebih baik, tumbuh step by step dan continue
2. Pertumbuhan perusahaan harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas perusahaan.
Pertumbuhan perusahaan tentu membutuhkan resource yang semakin besar juga, baik itu SDM maupun resource yang lain. Dan meningkatkan resource secara instan, bisa berakibat buruk bagi perusahaan.

Lantas bagaimana dengan pertumbuhan perusahaan yang masih skala startup? Apakah harus membatasi pertumbuhan di 10-15% juga? Nanti saya bahas di tulisan selanjutnya 🙂

Semalam saya kedatangan tamu 2 orang mahasiswa, ngobrolin masalah bisnis. Dan diakhir pertemuan salah satu diantara mereka request “pak, diupdate lagi blog nya”. Tak sampai disitu, setelah mereka pulang, saya cek line saya, dan ada message dari salah seorang mahasiswa “alamat blog pribadi bapak apa?” Setelah saya jawab, saya balik bertanya “kenapa (nanyain blog saya) mas?” Jawabnya, “saya pengen belajar marketing pak”.
Dari 2 kejadian semalam, saya jadi termotivasi untuk terus nulis, berbagi cerita,inspirasi dan informasi melalui tulisan. Nge blog lagi yukkkk 🙂