Pagi ini saya berniat untuk mengurus IMB di suatu daerah. Berkas-berkas yang dipersyaratkan pun sudah saya siapkan dari pagi. Karena perlu tandatangan kepala desa/lurah, saya mampir ke kelurahan terlebih dahulu untuk bertemu pak lurah. Tak lama setelah tiba di kantor kelurahan, saya bertemu pak lurah. Pak Lurah pun tidak berbelit-belit, spontan beliau memeriksa berkas2 saya dengan cepat dan tidak teliti. Saya yakin hanya formalitas saja ngecek nya. Kemudian terjadilah komunikasi
Pak Lurah : “ok bisa, ini bisa saya tandatangani. Tapi kalau ngurus IMB gini kena PAD (Pendapatan Asli Daerah) kelurahan”
Saya : “Oh iya, berapa pak?”
Pak Lurah : “10rbu per meter nya”
Saya : “@#==//&@(@($&#^@(#(”

Akhirnya keluarlah dana sekian ratus ribu untuk “PAD kelurahan”. Yang bikin saya heran, kalau misal masuk PAD kelurahan, masa ga ada bukti pembayaran PAD sama sekali?

Sesampainya di kecamatan, saya ketemu dengan pejabat kecamatan yang ngurus IMB, dan terjadilah komunikasi berikut
Pejabat kecamatan: “IMB ada biayanya ya mas. Tadi berapa kata pak Lurah?”
Saya : “Wah ga bilang ke saya bu.” (Saya bingung, kenapa biaya nya koq ga fix, tertulis dan terpublish???)
Pejabat kecamatan pun mencoba menghubungi pak Lurah dari handphone nya. Namun belum juga tersambung, salah satu staf ibu pejabat itu bilang ke saya.
Staf pejabat: “Biasanya biaya nya Rp.27.500 per meter mas”
Si ibu pun mulai ngitung di kalkulator dan muncullah angka x,xx juta. Dan si ibu dengan sedikit ceria bilang ” sudah x juta saja”. Gile bro, secepat itu ngasih diskon. Dan lagi-lagi ga ada bukti pembayaran sama sekali dari kecamatan.

Sebenernya yang bikin saya kesel bukan jumlah nya, tapi tidak transparan nya proses ini yang bikin kesal. Kalau pun memang harus bayar segitu, tapi ada bukti pembayaran yang sah, ada panduan pembayaran nya, saya ga ragu untuk membayar. Kalau semua proses pemerintahan di level bawah seperti ini, wajar kalau negara Indonesia ini kacau balau. Semoga pemimpin2 baru nantinya lebih tertib dan transparan. Amin