Kemaren saya mendaki bukit bersama seorang partner yang berusia 41 tahun. Selama perjalanan saya banyak ngobrol dengan beliau, dan banyak inspirasi yang saya dapat dari beliau. Beliau saat ini adalah seorang leader pada salah satu provider internet. Saya sangat terinspirasi dengan perjuangan beliau hingga bisa menjadi leader dari salah satu provider internet.
Dahulu beliau adalah seorang staf di perusahaan minuman, merintis karier sebagai seorang staf admin auditor, karier nya sangat mulus hingga beliau bisa menjadi supervisor auditor regional barat. Tak berapa lama, beliau pun dipromosikan untuk menjadi manager. Namun sayang, beliau mendapatkan statement yang kurang baik dari direktur “manager disini tidak ada yang muslim”. Beliau pun kaget, beliau berada di dua pilihan, jual akidah demi karier atau tinggalkan karoer demi akidah. Setelah berdiskusi dengan istrinya, akhirnya beliau memilih untuk meninggalkan perusahaan tersebut.
Setelah keluar dari perusahaan tersebut, bapak ini ternyata tidak gengsi dalam bekerja. Beliau bilang, “selama pekerjaan itu halal, saya akan jalani mas”. Beliau cerita bahwa beliau pernah jadi sales di pasar, jadi penjaga warnet, jadi office boy, bahkan jadi pengedar brosur bayaran di lampu merah pun pernah.
Dan karier nya dimulai dari penjaga warnet. Tidak seperti penjaga warnet pada umumnya, di sela-sela waktunya bapak ini mempelajari jaringan komputer dengan sangat baik. Hingga akhirnya, beliau diajak oleh owner warnet untuk membuat Wireless Internet Service Provider. Mulai dari jumlah pelanggan satuan, kini perusahaan ini sudah memiliki klien ratusan. Kesejahteraan beliau pun saat ini sudah lebih dari cukup. Bahkan sekarang beliau sedang mengoprek meain CNC, suatu hal baru bagi beliau.

Hmmm.. Sosok yang sangat inspiratif. Beberapa pelajaran yang dapat saya ambil dari cerita beliau adalah
1. Jangan “gadaikan” agama untuk kepentingan apapun
2. Jangan gengsi dalam memilih pekerjaan
3. Jadilah pembelajar sejati dan jangan berhenti belajar