Beberapa hari yang lalu kita semua berduka atas wafatnya salah satu pejabat negara yaitu (alm) Bpk Taufik Kiemas yang tidak lain adalah ketua MPR sekaligus suami dari ex ibu presiden Megawati Sukarno Putri. Melalui media televisi dapat kita ketahui bahwa almarhum meninggal di Singapura dan sempat disemayamkan sejenak di KBRI Singapura. Melalui media televisi pula kita dapat melihat bahwa penyambutan jenazah di Halim PK dilaksanakan dengan upacara militer resmi. Yang hadir disana pun bapak-ibu pejabat negara dengan pakaian yang sangat formil (bahkan orang militer menggunakan Pakaian Dinas Upacara) dengan penjagaan yang sangat super ketat. Semua kegiatan mulai dari Halim PK hingga pemakaman full dengan kegiatan seremonial.

Disisi lain, belum lepas dari ingatan kita akan meninggal nya ustadz Jefri. Dimana suasana penyambutan jenazah hingga pemakaman jenazah penuh riuh gemuruh orang-orang yang mungkin merasakan manfaat dari sosok UJE ini. Suasana pemakaman tidak ada seremonial formil, yang hadir pun berpakaian secukupnya peci+baju koko bahkan mungkin ada yang sarungan. Suasana atas “dipanggil” nya uje benar-benar terasa, media pun secara berturut-turut memberitakan tentang UJE.

Dari cerita yang singkat ini, kita dapat melihat bagaimana kehidupan seorang politik dan bagaimana kehidupan seorang ustadz. Tentu tulisan ini tidak mengeneralisir 2 profesi tersebut. Minimal kita bisa belajar atas akhir dari suatu kehidupan, dan kita dapat mendesain kehidupan abadi kita mulai dari sekarang.🙂