Di sebuah kota megapolitan,hiduplah sebuah keluarga kecil nan bahagia.Keluarga tersebut terdiri dari suami,istri,2 anak yg lucu2 dan ibu dari si suami.
Sang suami bekerja si sebuah perusahaan swasta dengan gaji pas-pas an. Demi keluarga yg dicintai nya,beberapa tahun setelah menikah,sang suami memberanikan diri untuk membeli sebuah rumah indah dan besar dengan memanfaatkan KPR dengan masa cicilan 15 tahun.

“Istriku,sekarang ayah sudah mulai nyicil rumah 15 tahun untuk masa depan kita,pandai2 kelola keuangan keluarga ya istriku.” Pesan sang suami kepada istrinya. Semenjak itu,sang suami pun memberlakukan pola hidup hemat kepada keluarganya. Tak jarang sang suami bertindak sbg “BPK” atas setiap rencana pengeluaran yang diajukan oleh sang istri.

Praktis gaji suami pun terserap habis untuk menyicil rumah dan memenuhi kebutuhan primer keluarga nya. Suatu saat ketika liburan sekolah anak2,sang istri ingin liburan keluarga ke suatu tempat wisata. Dan sang suami bilang “Sayaaaanngg.. Sabar yaa.. Sekarang kan kita lagi nyicil rumah.. Kita berhemat dulu ya sayaaanngg..” Mendengar itu,sang istri pun mengurungkan keinginannya untuk berlibur bersama keluarga.

Beberapa tahun kemudian,sang istri membujuk lagi sang suami, “ayah,anak2 lgi pengen beli mainan,gimana ayah?” Sang suami pun tetap mencoba memahamkan sang istri dengan mengatakan “sayaaaannnggg.. Sabar dulu yaaa.. Kita hidup hemat dulu sementara waktu.. Kita kan sedang nyicil rumah..” Keinginan anak2 pun kembali terkubur.. Begitulah kehidupan keseharian keluarga tersebut.. Hidup dengan penuh keterbatasan,memangkas seluruh rencana pengeluaran diluar kebutuhan primer,demi sebuah rumah idaman nan diimpi2 kan.. Tahun demi tahun berlalu, keharmonisan dan kehangatan keluarga lambat laun mulai pudar,sang istri mulai stress dengan sikap sang suami yang penuh perhitungan demi mendapatkan sebuah rumah idaman. Dan Ketakutan selalu menghantui sang istri tiap akan mengajukan pengeluaran diluar kebutuhan primer.

Hingga suatu hari,ibu dari sang suami menyampaikan keinginan nya untuk pergi ke luar negeri sebelum ajal menjemput. “Anak ku,sampe skrang ibu belum pernah ke luar negeri sekali pun,ibu peeengen sekali ke luar negeri.. Ini ibu ada sedikit tabungan untuk pergi ke luar negri,tapi masih kurang.. Sudikah kamu nutupi kekurangan nya,anakku..” Pinta sang ibu. Dan si anak menjawab dengan saaaangaat halus “ibuu.. Sekarang saya sedang nyicil rumah,ibu sabar dulu ya buu.. Nanti kalo ada rejeki,saya berangkatkan ibu ke luarnegri..🙂 ” dan sang ibupun harus bersabar mewujudkan impiannya untuk pergi ke luar negri.

15 tahun kemudian,cicilan rumah telah selesai,sertifikat rumah sudah menjadi milik sang suami, pengeluaran bulanan pun sudah tidak terpangkas lagi oleh beban cicilan rumah. Sang suami pun bahagia senang karena rumah idaman telah menjadi miliknya sepenuhnya. Namun sayang, rumah nan indah itu tak seindah isinya. Sang suami telah bercerai dengan istrinya,dan hak asuh anak pun berada pada sang istri. Ibu kandung sang suami juga telah tiada dengan tetap memendam keinginannya untuk pergi ke luar negri. Sang suami pun kini hidup seorang diri dalam rumah idaman miliknya. Rumah idaman berhasil ia miliki,namun cinta dan kebahagiaan telah berlalu dan hilang.

Itulah sekelumit kisah tentang manusia yg salah bersikap dalam menggapai impian. Semoga kita mendapatkan pelajaran berharga dari kisah diatas. Ayo bahagiakan ibu,ayah,suami,istri,anak2 dan saudara2 kita yg lain..

Materi bisa diukur dan dikejar,tapi kebahagiaan dan cinta hanya bisa kita pupuk dan siram,dan biarkan tumbuh subur dan berbunga.