Hari ini aku berkesempatan untuk jaga ujian.. Hmmm seperti biasa,di dpn ruang ujian banyak mahasiswa yg asyik dgn bukunya sembari menghafal kalimat2 pilihan di buku..

Begitu aku masuk kelas,mereka pun ikut masuk kelas dengan mata tetap tertuju pada buku,dan meng komat kamitkan mulutnya.. Tak lama kemudian,aku bilang, “tas (dan buku tentunya)nya silahkan dikumpulkan di depan kelas”.. Mereka pun mengikuti perintah itu,dan tetap.. Matanya tertuju ke buku yg mereka pegang dan mulutnya komat kamit.. Sampai dengan mereka tidak memegang buku,mereka tetap mencoba “recall” hafalan mereka hingga mereka terima soal ujian..

Hehehe.. Mungkin sebagian besar dari kita pernah melihat fenomena ini dan bahkan kita pun pernah melakukan aktifitas ini.. Ya.. Itu adalah indikator bahwa kita sedang menghafal. Penghafal akan memaksakan otak nya untuk merekam kalimat2 yg ingin mereka hafalkan. Sehingga tak heran bila mereka komat kamit berkali2,karena ini adalah salah satu usaha untuk me “recall” memory mereka agar tetap segar hafalan nya..

Pertanyaan nya adalah apakah dunia pendidikan itu hafalan? Tidak.. Dunia pendidikan itu untuk pemahaman dan pengembangan. Apabila mahasiswa atau siswa tetap dibiasakan untuk menghafal,bisa dipastikan dalam hitungan hari,mereka akan lupa apa yang mereka hafalkan itu..

Itulah fenomena pendidikan di Indonesia ini,memaksa murid nya untuk menghafal.ujian closed book adalah trigger bagi mahasiswa untuk menghafal. Sementara,di dunia nyata (kehidupan) hampir dipastikan kita menjalani hidup ini dengan pemahaman bukan hafalan.

Dunia pendidikan adalah pemahaman. Apabila sudah paham,kita harus mengembangkan. Menghafal itu sangat berbeda dengan memahami. Menghafal tidak menjamin anda paham. Berbeda dengan memahami,apabila anda paham,anda pasti bisa menuliskan apa yang anda pahami jauh lebih banyak dari hafalan itu sendiri.

So,mulailah untuk memahami,bukan menghafalkan.. Agar kita bisa mendapat kan keuntungan dari ilmu, jauh lebih banyak dibandingkan hanya menghafalkan..🙂