Setelah 25 tahun hidup di dunia ini, akhirnya saya dirawat di rumah sakit juga..šŸ˜€ Ya, seminggu yang lalu saya masuk RS.. Ceritanya tanggal 18 Januari malam, seperti biasa saya baru nyampe rumah jam 20.30. Sesampainya di rumah, (tidak seperti biasanya) badan saya menggigil sekali. Kota cimahi yang biasanya sejuk di malam hari, khusus hari itu betul-betul dingin luar biasa.. Bulu kuduk ku berdiri, gigi ku saling beradu atas dan bawah.. Setiap menyentuh air, kulit ini rasanya seperti ditusuk jarum yang runcing dan tajam.. Brrrr…

Untuk melawan dinginnya suhu waktu itu, badan kubalut dengan jaket mantel tebal, celana training, kaos kaki, dan 2 selimut.. Walaupun gigi atas dan bawah saling beradu, malam itu kupaksakan untuk tetap bisa tidur.. Tak lama kemudian… ZZZzzzzz….. ZZZZzzzzz… ZZZZzzzz….

2 jam setelah kuterlelap, tepatnya sekitar jam 00.30 dini hari, tiba2 aku terbangun setengah sadar. Mengigau setengah sadar, dan badan ku menggigil. Begitu kucoba tempelkan punggung tangan ke leher ku, masya Allah badan ku panas sekali. Perkiraan mungkin pada saat itu suhu badan ku lebih dari 40 derajat. Tak lama ku mengigau, tiba-tiba aku terbatuk (seminggu sebelum nya aku memang lagi sakit batuk dan radang tenggorokan). Alangkah kaget nya aku, begitu berdahak, warna dahak itu merah darah. Makin panik lah aku. Ditambah lagi, aku di rumah sendirian tidak ada siapa-siapa. Pikiran singkat ku pada saat itu adalah Segera ke Rumah Sakit, dan minta dirawat minimal sampe badan tidak panas.

Setelah mengambil keputusan itu, kendala kedua adalah, gimana caranya aku ke Rumah Sakit? Naik taksi ga mungkin, karna di Cimahi ga ada taksi. Akhirnya, aku berharap ada Satpam yang “biasanya” mukulin tiang listrik perjam. Kutunggu sampai jam 01.15, suara ketukan satpam tak kunjung datang. Sementara, kondisi badan benar2 tidak bisa kutahan lagi. Akhirnya dengan menguatkan diri, aku jalan ke pos satpam untuk minta diantar ke RS. Cibabat.

Singkat cerita, pak Satpam tadi mengantar aku ke RS. Cibabat dengan motor. Setiba nya di RS. Cibabat, aku direbahkan di Instalasi Gawat Darurat, di cek tekanan darah, suhu badan sampai diambil darah. Tak lama kemudian, sang dokter jaga bilang “Saya kasih obat ya.. Nanti kalo masih panas, datang lagi aja” dan ku jawab “dok, saya dirawat aja dulu 1 hari, karna di rumah ga ada orang, saya sendirian”. Akhirnya si dokter pun meng iya kan. Dan aku pun dirawat di RS. Cibabat.

Hari rabu, 19 januari 2011 adalah hari pertama ku di RS. Seperti biasa, pagi, siang, sore dan malam hari, aku di cek tekanan darah dan suhu tubuh. Alhamdulillah hasil nya normal, tapi kepala masih agak pusing kalo dipake jalan (waktu itu cuman bisa jalan ke toilet aja). Karna dahak masih berdarah, sang dokter pun meminta aku untuk cek dahak. Dan hari itu, aku disibukkan dengan mengkoleksi dahak dalam sebuah toples yang disediakan oleh sang suster. Di sore hari, sang istri pujaan hati berangkat dari Jakarta menuju Bandung dan bersiap untuk jadi suster plus-plus ku selama di RS. Thanks ya say, udah mau mbolos dan merawat suami mu ini.. J Love you.. J

Hari kedua pun sama, di cek tekanan darah dan suhu tubuh, hasil nya normal, pusing sudah mulai hilang, tapi dahak masih berdarah. Akhirnya sang dokter, memerintahkan suster “Di rontgen aja”. Oke. Hari kamis, 20 januari 2011 pagi aku di rontgen, kondisi badan sudah membaik, makan juga sudah normal, tapi dahak masih berdarah. Sore hari nya, hasil cek dahak negatif (tidak ada yang mencurigakan), hasil rontgen, ada flek ringan di paru2 ku. Hmmm… mungkin karna saya sering anik motor nih. J Hari kedua ini aku mulai ga nyaman dengan RS ini, karna badan sudah bisa diajak kompromi, dan aku mulai bosan tinggal di ruangan berukuran 7×4 meter yang ditempati 2 pasien. Tapi sayangnya, setiap berinteraksi dengan dokter maupun suster tidak ada sedikit pun wacana dari mereka untuk mengijinkan aku pulang. Oke, hari kedua aku paksakan untuk tetap bermalam di RS.

Hari ketiga, Jumat 21 januari 2011 pagi, aku sudah merencanakan dengan istri, bahwa hari ini aku harus pulang, Tekanan darah normal, suhu badan normal, dahak masih berdarah. Di pagi hari itu, seperti biasa, sang dokter datang ke ruangan, cek berkas2 saya, dan bilang “Ini radang paru, tapi kok ga panas ya. Coba cek PPD”. Selidik punya selidik ternyata, cek PPD adalah untuk memastikan apakah saya kena TB (TUberculosis). Karena belum ada juga pernyataan dokter yang mengijinkan aku untuk pulang, akhirnya kami minta di rujuk ke RS di jakarta, dengan alasan karna keluarga ada di Jakarta. Dan dokter pun mengijinkan dengan berat hati.. hahaha.. Pagi itu,setelah di suntik PPD aku pun keluar dari RS. Cibabat.. yayyyyy…šŸ˜€ *Hasil PPD belum bisa dilihat hari itu, karena perlu waktu sekitar 2 hari untuk bisa melihat reaksi tubuh terhadap suntikan PPD tersebut.*