Alhamdulillah akhirnya hari ini saya bisa kembali nge blog lagi..🙂

Saat ini saya akan bercerita sedikit tentang salah satu momen yang sangat monumental dalam hidup ku.. Ya.. Menikah… hehe..

Kenapa monumental, karena untuk menikah, banyak sekali tantangan yang harus kami hadapi bersama. Tidak semulus yang dibayangkan, tidak semudah membalik telapak tangan… Tetapi banyak yang harus kami selesaikan satu persatu.

Diawali dengan komitmen kami diawal tahun 2010 untuk menikah pada tanggal 31 Oktober 2010.

Awal 2010 saya memberanikan diri untuk mengeluarkan diri dari PT. Huawei dan kembali ke jalan yang lebih aku minati, bisnis. Dengan hanya berbekal keyakinan diri, tepat akhir Januari 2010, aku resmi keluar dari PT. Huawei. Dan mulai bingung lah keluarga saya, sampai sempat terdengar kalimat

“Kamu ini jadi nikah ga sih? Mau nikah koq malah keluar kerja…”

Yah… suara2 seperti itu tidak asing ditelinga ku. Keputusan ku untuk keluar dari Huawei laksana magnet permasalahan yang baru saja diaktifkan. Tapi berbagai rintangan tersebut tidak akan mampu mengurungkan niat ku untuk tidak menjadi karyawan, karena saya sudah terlanjur keluar dari karyawan. Demi menyambung hidup dan mewujudkan pernikahan ku, 5 hari setelah keluar dari Huawei, aku buka usaha rental perlengkapan bayi. Alhamdulillah berjalan dengan baik, walau usaha ini sangat menyita energi ku, karna harus mondar-mandir keliling Jakarta ngantar dan jemput barang.

Tantangan makin bertambah besar ketika akhir februari sang calon istri keluar dari tempat kerjanya (perusahaan swasta), karena baru saja lulus tes menjadi PNS. Sayangnya, pengumuman tersebut tidak disambut dengan pengumuman mulai kerja, sehingga beliau pun harus sabar menunggu berbulan-bulan tanpa kejelasan yang pasti. Otomatis, calon istri yang tadinya berpenghasilan tiap bulan, menjadi pengangguran dan tidak berpenghasilan sama sekali.

Sejak keluarnya aku dari Huawei ditambah keluarnya istri dari perusahaan nya membuat kami harus ber manuver dalam mengarungi kehidupan. Yang tadinya makan candle light dinner di Solaria Plaza Semanggi adalah hal yang biasa, kini kami harus merasa puas dengan makan di warung tegal pinggir jalan. Alhamdulillah masih bisa diberi rejeki untuk bisa makan..🙂 Siang malam bahkan hingga tengah malam, kami berdua sepeda motoran berdua untuk mengantar pesanan rental persewaan bayi. Panas, lapar, kehujanan, ditambah lagi bawa barang yang ga kecil menjadi rutinitas harian kami. lika liku kehidupan yang sangat menarik. Disaat orang berangkat kerja, kami malah menyiapkan skenario cerita untuk bisa mengeluarkan sang calon istri keluar dari rumah. Karna keluarnya aku dari PT. Huawei, ternyata tidak disarankan oleh sang calon istri untuk diceritakan kepada keluarag beliau. Alhasil, akupun harus pandai ber skenario cantik demi tetap mendapatkan sang pujaan hati.. hehehe

Bulan demi bulan berganti, kami pun mulai terbiasa dengan hidup yang super duper sederhana ini. Badan ku habis, berat badan ku turun drastis, profesi ku sebagai tukang antar2 perlengkapan bayi pun mulai dipandang sebelah mata oleh lingkungan. Dengan kehidupan yang begitu2 saja, waktu pernikahan kami pun semakin mendekat.

Alhamdulillah pertengahan Mei, si calon istri mulai masuk kerja sebagai CPNS di Bappeda Pemprov DKI. Oase di gurun pasir pun mulai tampak terlihat. Pada bulan September, alhamdulillah saya diterima sebagai dosen Politeknik Telkom. Dan kehidupan kami pun mulai membaik perlahan. Tanggal 31 Oktober 2010 pun tiba. Dan kami pun menikah.. Alhamdulillah pada saat kami menikah, smua nya sudah berada pada jalur masing-masing menuju harapan dan impian kami.🙂 Semoga kami dapat membangun keluarga yang Sakinah Mawadah WArahmah. Amin..🙂