Tak terasa, hampir 2 bulan tinggal di Jakarta kemaren. Sebagai manusia normal yang dibekali pikiran dan perasaan, banyak hal-hal baru yang kupelajari disini. Salah satu nya adalah memperhatikan jalan-jalan di kota yang mengikrarkan diri sebagai “Service City” ini.

5 hari dalam seminggu, 2 kali dalam sehari, aku selalu melewati jalan-jalan normal berangkat kerja (Sunter-Sudirman). Saking jarang nya kemana2, tahu nya ya cuman jalan2 itu melulu. Ketika ada yang ngajakin, “ke sini yukz…”, pertanyaan “Dimana itu?? Naik apa aja kesana nya???” menjadi jawaban rutin yang bisa ditebak oleh lawan bicaraku. Bosan dengan “ke apatisan ku”, suatu hari kuberanikan diri untuk bersepeda keliling kota Jakarta. Diawali dengan menggunakan jalur busway yang sering kulewati, kemudian mencoba menyasarkan diri dengan mengandalkan “feeling” (baca: perasaan). Pada waktu itu prinsipku “Kalo nyasar ya balik kanan”. Wedew.. Ternyata capek juga bermain dengan “feeling”. Pertigaaan, perempatan dan persimpangan2 saaaaaaaaangat banyak di Jakarta. Untung nya aku ga nyasar. Sesampai nya di rumah, aku buka peta dan kutelusuri jalan2 yang tadi kulewati. Dan muncul lah kata2 spontan “Oalah …” “Yaelah….” “Ternyata,…”

Hmmm… Nice experience… Ada 3 hal penting yang kugaris bawahi disini.

1. Memperhatikan
2. Mempraktekkan
3. Panduan

Yapz, kita akan lebih mudah melakukan sesuatu, ketika 3 hal tersebut kita kerjakan bersama2, kita memperhatikan, sekaligus mempraktekkan, sekaligus memegang panduan.
Termasuk dalam menyusuri detik2 kehidupan. Suatu cita2, impian, ataupun tujuan, akan jauh lebih mudah kita raih ketika kita memperhatikan, kemudian dipraktekkan dibarengi dengan panduan.🙂