Suatu hari seorang dosen ITB mengeluh di depan kelas,

kenapa yang ikut kelas saya banyak sekali?? Hampir 75% mahasiswa yang mengambil mata kuliah X, ikut kelas saya, bukan nya mata kuliah X di buka 2 kelas??? Kenapa ga pilih kelas yang sebelah saja??

Hmmmmm….. Dengar2 kabar burung, 2 dosen ini punya karakter yang berbeda. Yang satu “enak”, yang satu lagi “ga enak”. Karena mahasiswa adalah manusia, pasti pilih yang enak donk… Makanya kelas si dosen enak meledak….

Cerita diatas adalah salah satu contoh problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia. Menjadi mahasiswa lebih dari 4 tahun sudah cukup bagi ku untuk merasakan karakter2 dosen. Penilaian ini sangat subjektif. Karakter dosen sifat nya sangat personal (tergantung pribadi masing2 dosen). Berdasarkan pengalaman ku, secara umum karakter dosen bisa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok

  1. Ngajar enak, nilai enak

    Perfect dosen!!! Menyampaikan ilmu nya dengan baik, dan penilaian nya juga baik… So, ilmu nya dapat, nilai nya juga dapat. :D

  2. Ngajar ga enak, nilai enak

    Ini tipe dosen yang ngajar nya kurang dipahami oleh mahasiswa nya, banyak faktor, misal dosen nya memang kurang baik menyampaikan materi atau memang malas membagi ilmu. Tetapi nanti ujung-ujungnya indah. Entah soal ujian nya di buat mudah, atau standard nilai nya dibuat rendah, sehingga kemungkinan mahasiswa nya bernilai tinggi sangat besar. :D

  3. Ngajar enak, nilai ga enak

    Karakter 3 ini, sebetul nya mendekati standard dosen ideal, terkadang dosen yang memang berkarakter adil (kalau nilai ujian mu jelek ya nilai mu jelek, begitu pula sebaliknya). Oleh karena itu, pada saat kuliah, dosen tipe ini akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyampaikan materi dengan baik, sehingga mahasiswa nya bisa mudah memahami dan mendapatkan ilmu nya.

  4. Ngajar ga enak, nilai enak

    Nah ini tipe dosen yang ga banget. Sudah ngajar nya kurang mudah dipahami, nilanya pun pelit2 an… :P

Diantara 4 karakter dosen ini, yang paling favorit pastilah dosen yang nomor 1. Dan pasti yang paling tidak disukai adalah karakter dosen yang nomor 4. Nah, antara no 2 dan 3 ini lah yang membedakan mahasiswa pencari nilai dan pencari ilmu. Bila dihadapkan pada pilihan nomor 2 dan 3, saya yakin sebagian besar mahasiswa, pasti akan memilih yang nomor 2, kasarnya begini, halah ga peduli dapet ilmu atau ga, yang penting aku dapet nilai A. Hanya sedikit mahasiswa yang memilih dapet nilai baik karena memang saya mumpuni (capable) di mata kuliah tersebut.

Nah, inilah salah satu contoh bahwa karakter dosen itu, sangat menentukan kualitas mahasiswa nanti nya. Menjadi dosen yang terlalu baik (mudah memberikan nilai A) bisa jadi malah menjerumuskan mahasiswa nya. Menjadi dosen yang terlalu pelit nilai, juga kurang fair bagi mahasiswa nya. Oleh karena itu, masa depan bangsa ini juga berada di karakter para pendidik (dosen) saat ini. Karena para pendidik adalah mesin pencetak generasi muda. Makin baik mesin pencetak nya (dosen) , makin baik pula hasil cetakannya (mahasiswa nya).

So, bagi para pembaca yang merasa berperan sebagai pendidik, berkarakter lah sebaik-baik nya. Ingatlah bahwa tugas seorang pendidik sangatlah mulia, baik atau buruk, pasti akan meninggalkan bekas pada anak didik nya…