Postingan ku kali ini terinspirasi ketika shalat jumat kmaren… Shalat Jumat di sebuah kota Balikpapan yang mendapat julukan kota minyak ini.. Shalat Jumat adalah salah satu media “charge” umat Islam. Setelah 1 minggu berkutat dengan aktivitas yang bikin pusing, shalat Jumat bisa dijadikan sebagai media siraman hati. Dengan datang ke masjid untuk melaksanakan shalat jumat, aku berharap bisa tidur sejenak menyegarkan hati. Setelah masuk waktu nya, si ustadz terpilih (terpilih untuk khutbah maksudnya
) memulai khutbah nya dengan bahasa Arab. Dengan sabar dan penuh perasaan penasaran, kudengerin stiap kata yang kluar dari mulutnya (walaupun ga ngerti bahasa Arab), kutatap matanya dengan penuh rasa harap (berharap dapat anaknya ketenangan jiwa). detik demi detik berlalu, ternyata yang keluar dari mulut nya bahasa Arab murni… “Nih ustadz lulusan Al Azhar kali ya…” pikir ku.
Yah, otomatis, ga ada sdikit pun siraman hati yang kudapatkan, lha wong ngomong nya bahasa Arab murni. Paling ngerti nya ketika beliau bilang “wa…..”, oh itu artinya “dan……..”. Kalo dia bilang “Rasulullah…”, berarti aku musti jawab “Shallallahualaihi wassalam”. dari awal khutbah sampe akhir, hanya 2 kata itu yang bisa kumengerti… **Maklum ga’ ngerti belum jago bahasa Arab
Rada menyesal, rada jengkel, kurasakan… Entah apa yang dipikirin oleh Ustadz itu… Apakah smua orang yang hadir disana bisa mengerti bahasa Arab yang diucapkan nya.. Bukannya tujuan berkhutbah adalah menyampaikan thausiyah kepada peserta Shalat jumat. Tapi, kalo yang dia ucapkan aja ga dimengerti, Bagaimana bisa ter thausiyahi peserta shalat Jumat?? Entahlah… Yang penting aku dapet hikmah dari kejadian ini… Hikmah bahwa komunikasi adalah menyampaikan sesuatu kepada orang lain, sehingga orang lain itu mengerti apa yang kita maksud. Mau bicara pake kata2 indah, sampe bicara pake kaki, selama orang yang kita ajak komunikasi mengerti, berarti tujuan dari komunikasi telah tercapai…
Para pembaca setia skalian, untuk dapat berkomunikasi dengan baik, pahami betul karakter pribadi orang yang akan kita ajak komunikasi, jangan gunakan bahasa Spanyol, kalo bicara ke orang yang cuman bisa bahasa Jawa… Jangan gunakan bahasa Inggris, kalo mau ngomong sama orang yang punya cacat pendengaran…. Intinya, gunakan “bahasa” yang memang mereka mengerti… Ga usah ngerasa gengsi ketika ngomong “berlogat ndeso” kepada orang ndeso… Selama mereka bisa mengerti apa yang kita maksud, ya tujuan komunikasi kita tercapai..
Jadi inget, ketika ingin mengkomunikasi kan sesuatu, kita harus membuat skenario “take over” terhadap suatu acara kemahasiswaan. Walopun, banyak yang merasa kami “kelewatan”, tapi insya Allah tujuan kami baik. Dan mereka betul2 merasakan apa yang ingin kami komunikasikan…
Yapz… Terkadang kita perlu “tamparan” untuk bisa mengerti sesuatu… dengan catatan, kalo memang perlu dilakukan tamparan… Tapi kalo nggak perlu, ya jangan dipaksakan… Kasihan yang ditampar… sakit… hehehe…
Para pembaca sekalian, banyak sekali keributan besar maupun kecil, mulai dari keributan antara suami istri, calon suami istri, sampe keributan antar negara terjadi karena ada nya miskomunikasi… Makanya, silahkan efektifkan komunikasi.. Baik dengan pasangan anda, atasan anda, rekan anda, bawahan anda, hingga calon mertua anda..
Tidak ada yang tidak bisa terselesaikan dengan komunikasi yang jujur…
**kutambahin “jujur”, karena percuma melakukan komunikasi yang penuh dengan ketidakjujuran…
January 20, 2009 at 1:58 am
waha, masternya public speaking nih
apa kabar kak? lama tak bersua
January 21, 2009 at 1:49 pm
aku pernah denger daris seorang ustadz, katanya ada misteri sholat jum’at. jadi, ada seorang yang punya penyakit gak bisa tidur, trus orang itu sholat jum’at, dan pas khutbah dimulai dia langsung bisa tidur….z.z.z.z
Pesan: jangan tidur pas khutbah…
January 28, 2009 at 12:26 am
harusnya pake translator mas
January 29, 2009 at 2:41 am
Sepakat. Dalam berkomunikasi kita memang harus memperhatikan budaya, adat, hingga karakter lawan bicara. Karena bukanlah komunikasi jika penerima tidak dapat memahami pesan yang disampaikan.^^
Dan dalam berkomunikasi, diperlukan kesabaran. Yah, mungkin saja yang ingin kita sampaikan itu benar. Mungkin itu begitu penting. Tapi tetap saja kita perlu bersabar dalam memilih metode penyampaian. Jika menuruti emosi (tidak sabar), bisa jadi niatan baik itu malah ditangkap lain oleh penerima. Mungkin terkesan remeh, tapi inilah yang seringkali memicu konflik antar-manusia. Konflik-konflik yang tidak perlu.
(saya-yang masih perlu banyak belajar untuk sabar-)